Bikin Sistem Terintegrasi BGR Bantu Pemerintah Validkan Data Logistik

Bikin Sistem Terintegrasi BGR Bantu Pemerintah Validkan Data Logistik

31 March 2019
https://rmco.id/baca-berita/corporate-action/6362/bikin-sistem-terintegrasi-bgr-bantu-pemerintah-validkan-data-logistik

RMco.id Rakyat Merdeka - PT Bhanda Ghara Reksa alias BGR Logistics, mengusulkan konsep National Warehouse Data Commodity. Selain memanjakan pelanggan, konsep ini juga bisa membantu pemerintah mendapat data akurat soal komoditas strategis.

Direktur Utama BGR Logistics M Kuncoro Wibowo mengatakan, dalam menghadapi industri 4.0, perusahaan logistik sepatutnya melakukan transformasi. Tujuannya, untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang menginginkan informasi cepat dan akurat. Dengan begitu, pergerakan barang yang mereka punya bisa selalu diawasi.

Alasan inilah yang membuat BGR Logistics berencana menyediakan National Warehouse Commodity untuk keperluas lebih luas. Bukan hanya di pergudangan.

Kuncoro berharap konsep ini bisa membantu pemerintah mendapat data komoditas strategis yang akurat. "Dengan National Warehouse Data Commodity ini akan banyak memberikan manfaat kepada pemerintah dan pengguna jasa untuk mengeluarkan kebijakan berdasarkan data yang dikeluarkan dari sistem tersebut. Tentunya juga mengelola gudang tersebut," terangnya.

Diungkapkan Kuncoro, saat ini pihaknya telah membangun Warehouse Integrated Application (WINA) dan Fleet Integrated and Order Monitoring Application (FIONA). Aplikasi ini untuk membantu kebutuhan logistik pelanggan. Bahkan, bisa dikembangkan dalam skala nasional, yakni National Warehouse Data Commodity.

Aplikasi tersebut juga dapat memantau pergerakan barang milik pelanggan dan diawasi oleh kantor pusat, melalui Command Center yang dimiliki BGR Logistics. "Semua pergerakan barang di gudang ataupun saat berada dalam proses distribusi termonitor oleh kami," tegas Kuncoro.

Dia menyebut WINA dan FIONA dapat diintegrasikan dengan aplikasi di pelabuhan milik Pelindo II maupun otoritas pelabuhan. Hal ini untuk mendukung sistem logistik nasional. Misalnya pergerakan barang, sejak masuk ke pelabuhan, hingga terdistribusi ke gudang-gudang ataupun kepada end user.

Kuncoro menegaskan, semua step tersebut diawasi. Pandangannya, dengan sistem ini para pelanggan bisa fokus terhadap pengembangan bisnisnya masing-masing. Chairman iCIO Community Rico Usthavia Frans mengakui, tingginya ongkos logistik di Indonesia menjadi salah satu faktor rendahnya daya saing produk-produk Indonesia di pasar global.

Rico menilai perlu kesamaan visi dan langkah di antara para CIO untuk mendorong terbentuknya industri logistik Indonesia yang cakap dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunkasi. Tujuannya untuk memangkas ongkos logistik.

"Komitmen BGR Logistics melakukan transformasi melalui peningkatan pemanfaatan teknologi dan menjadi perusahaan logistik berbasis digital akan menjadi tolok ukur. Tidak saja di bidang logistik, tapi bisa ditularkan ke seluruh rantai pasok," ujarnya.

Berdasarkan data penilaian 2 tahunan dari Logistic Performance Index (LPI) terhadap enam indikator. Yakni LPI efisiensi proses di kepabeanan, kualitas infrastruktur, biaya pengiriman yang kompetitif, kompetensi dan kualitas jasa logistik, kemampuan melacak dan menelusuri dan waktu tempuh, Indonesia menempati posisi 46 di 2018.

Meskipun meningkat signifikan dari posisi 63 di 2016, namun kinerja logistik Indonesia masih kalah dibanding Singapura yang ada di peringkat 7, Thailand 32, Vietnam 39, dan Malaysia di peringkat 41.

 

contact media

Lucy

+62215258066