Virtus Tehnologi Genjot Sektor Manufaktur, Optimis Industri 4.0 Bisa Meningkat 80 Persen

Virtus Tehnologi Genjot Sektor Manufaktur, Optimis Industri 4.0 Bisa Meningkat 80 Persen

24 April 2019
http://kilasjatim.com/virtus-tehnologi-genjot-sektor-manufaktur-optimis-industri-4-0-bisa-meningkat-80-persen/

SURABAYA, kilasjatim.com: - Virtus Technology Indonesia, penyedia solusi infrastruktur TI dan anak perusahaan CTI Group, terus menggenjot sektor manufaktur salah satunya melalui kegiatan Virtus Showcase dengan mengundang ratusan profesional industri tanah air yang tujuannya memberikan gambaran terkait tantangan dalam menghadapi industry 4.0 di Sheraton Hotel Rabu (24/04/2019).

Presiden Direktur Virtus Technology Indonesia, Erwin Kuncoro mengatakan, revolusi industry 4.0 bukan hanya berdampak pada sektor barang (manufaktur) saja tapi juga sektor jasa (non-manufaktur). Pihaknya bersyukur bahwa tren industry 4.0 juga mendapat dukungan pemerintah melalui regulasi maupun pengembangan infrastruktur.

"Era industri 4.0 tak bisa dielakkan terutama bagi para pelaku usaha. Industri 4.0 merupakan istilah yang dilekatkan pada revolusi industri generasi keempat yang ditandai dengan integrasi antara dunia siber dan fisik di sebuah industri berkat kolaborasi serangkaian teknologi digital, di antaranya Internet of Things, artificial intelligence, human-machine interface dengan tujuan menciptakan proses produksi yang efektif dan efisien. Atas dasar ini maka kami hadir di Surabaya yang mewakili Indonesia Timur," kata Erwin seraya menambahkan
revolusi industry 4.0 bukan hanya berdampak pada sektor barang (manufaktur) saja tapi juga sektor jasa (non-manufaktur).

"Saya merasakan dampaknya cukup signifikan terhadap kinerja perusahaan. Jika secara rata-rata pertumbuhan industri teknologi nasional tahun lalu sekitar 20-30 persen, untuk penjualan kami di wilayah Surabaya dan Indonesia Timur secara umum mencapai 70-80 persen terutama terlihat di beberapa sektor seperti telekomunikasi, perbankan, pemerintahan, dan manufaktur," jelasnya.

Harapannya dengan potensi yang ada sektor manufaktur bisa tumbuh lagi, namun kendala yang terjadi selama ini adalah adaptasi ke industri 4.0 selain juga minimnya inovasi.

"Selain manufaktur sektor lain yang berpeluang meningkatka produktifitas dan profitabilitas yakni sektor jasa. Kami berharap melalui Virtus Showcase ini, para pelaku bisnis di Surabaya dapat lebih proaktif memanfaatkan peluang dari revolusi industri keempat ini," imbuh Erwin.

Untuk bisa memanfaatkan peluang tersebut, Erwin memaparkan ada tiga kunci keberahasilannya, pertama dengan melakukan transformasi digital baik secara teknologi, sistem kerja, maupun kultur perusahaan. Yang kedua menciptakan layanan yang memilki tiga unsur: reaI-time, customized dan multi channel, serta yang terakhir adalah meningkatkan skill SDM.

Virtus Showcase 2019 yang digelar di Surabaya, menghadirkan sejumlah pakar teknologi dan praktisi bisnis yang berbagi knowledge dan best practice dari penerapan Industry 4.0 serta demo solusi TI terkini.

Berada di jajaran pembicara, yaitu Alva Erwin, Expert and Researcher in Big Data and Machine Learning of Swiss German University, yang memaparkan mengenai teknologi di balik tren Industry 4.0 dan bagaimana bisnis dapat memanfaatkan peluang dari tren tersebut. Sharing materi kemudian dilanjutkan oleh Maria Kalangi, Systems Engineer for OEM and IoT Solutions at Dell EMC dan Wahyu Pamungkas, Security Consultant of Check Point Software Technologies yang menjelaskan mengenai berbagai teknologi pendukung Industry 4.0.

Sekadar diketahui, riset oleh McKinsey' mencatat bahwa sektor manufaktur di Tanah Air akan mendapat pengaruh terbesar dari penerapan industri 4.0 dengan tambahan nilai sebesar US$34 miliar. Adapun sektor lain yang terkena dampaknya adalah sektor ritel sebesar US$25 miliar, transportasi US$16 miliar, pertambangan US$15 miliar, agrikultur US$11 miliar, TIK sebesar US$8 miliar, kesehatan US$7 miliar, sektor publik US$5 miiar, serta finansial sebesar US$2 miliar.

Sedangkan lembaga riset Pricewaterhouse Cooper pada 2018 menyebutkan bahwa revolusi industri 4.0 dan transformasi digital diperkirakan akan menambah pendapatan perusahaan di Asia Pasifik sebesar 17% selama lima tahun ke depan dengan efisiensi hingga 16%.

"Sistem cerdas dan otonom mengantarkan era baru yaitu manufaktur digital, di mana data memainkan peran penting dalam memperkuat jaringan hyper-connected pada mesin fisik dan virtual. Efisiensi produksi semakin meningkat dengan kehadiran teknologi digital, dan organisasi yang melakukan investasi strategis dalam SDM, teknologi dan proses akan memperoleh manfaat dalam jangka waktu yang panjang. Dell EMC melihat peluang yang menjanjikan bagi organisasi dengan kehadiran Industri 4.0 dan kami berkomitmen untuk membantu pelanggan kami dalam mengoptimalkan operasional bisnis, meningkatkan inovasi dan memetakan jalur pertumbuhan baru," kata Adir Ginting, Direktur Solusi Infrastruktur, Dell EMC Indonesia.

 

contact media

Lucy

+62215258066